Namanya Abi, lahir dan tumbuh di Kalimantan. Dia sarjana akuntansi (S.Ak) yang lulus pada tahun 2015. Dia bercita-cita menjadi akuntan di salah satu perusahaan di Yogyakarta. Dia sangat menyukai Jogja karena menurutnya Jogja adalah tempat yang artistik dan romantis. Oleh karena itu, ia nekat meninggalkan keluarganya di Kalimantan untuk merantau ke Yogyakarta. Abi pergi tanpa sepengetahuan keluarganya karena ia dilarang orang tuanya untuk merantau, menurut orang tuanya hidup di perantauan sangatlah keras.
Abi sebelumnya sudah bekerja menjadi karyawan toko buku di kotanya sehingga ia memiliki cukup tabungan untuk merantau. Dia menyusun strategi matang-matang supaya keinginannya tercapai. Dia pergi menggunakan kapal feri, perjalanannya kurang lebih 7 hari. Sesampainya di Jawa Barat, ia pergi menggunakan kereta api menuju Jogja. Sampai di Jogja, ia menggunakan sebagian uangnya untuk menyewa kos dan sisanya untuk ongkos mencari kerja.
Berminggu-minggu ia mencari pekerjaan namun tak kunjung diterima. Mulai dari perusahaan besar sampai toko kecil ia datangi, tapi tak satupun menyediakan lowongan pekerjaan. Dia sangat frustasi karena uangnya sebentar lagi habis. Ditambah pembayaran sewa kos yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat stres apalagi ia jarang makan, makin sering sakit-sakitan. Karena kasihan, pemilik kos memberinya pekerjaan sementara yaitu menjadi tukang kebun di sana.
Abi merasa kecewa dengan dirinya sendiri juga dengan jalan hidupnya. Semua tak sesuai harapannya. Bukannya menjadi bahagia dan sukses, ia malah menjadi miskin dan sekarat. Ia ingin kembali ke pelukan orang tuanya, tapi sangat malu dan ia juga tidak punya cukup uang untuk membeli tiket. Dia juga tidak punya seseorang yang menemani dan menyemangatinya. Sampai suatu malam, dia menelepon kedua orang tuanya dan bercerita panjang lebar.
Hidupnya yang semakin menyedihkan membuat Abi menjadi semakin stres. Dia suka berbicara sendiri, tapi pembicaraannya sangat tidak jelas, seperti orang yang tidak sadar. Dia suka tiba-tiba marah dan teriak pada orang lain. Ia juga suka menyakiti diri sendiri. Bahkan pada suatu malam, ia mencoba bunuh diri dengan cara menggantung diri di halaman belakang tempat kos. Untung saja ada yang mengetahui kejadian itu sehingga Abi masih bisa diselamatkan.
Pemilik kos segera memberi tahu orang tua Abi tentang kondisi Abi saat ini. Orang tuanya terkejut dan panik. Orang tuanya berusaha mencari uang supaya dapat menjemput Abi. Segala cara dilakukan sampai akhirnya orang tua Abi datang tuk menjemputnya. Setelah Abi dibawa pulang oleh orang tuanya, Abi diperiksakan ke rumah sakit terdekat karena kondisi Abi semakin seperti orang gila.
Ternyata benar, Abi mengalami depresi yang berat karena kegagalannya itu. Ia harus menjalani pengobatan intensif di rumah sakit jiwa tersebut. Setelah 3 tahun, ia sembuh dari penyakitnya, memang belum sembuh total namun ia sudah bisa pulang tapi ia harus mengonsumsi obat seumur hidup dan kontrol ke dokter secara teratur. Setelah perjalanan panjang itu, sekarang ia menjalani hidupnya dengan normal. Ia menjadi buruh tani di Sawah milik saudaranya sambil berusaha mencari lowongan pekerjaan sebagai Akuntan.
Buat Abi semangat yaa!!
BalasHapusSama seperti aku yang sebentar lagi akan pergi merantau ke pulau Sumatera
BalasHapusSemangat:*
Hapusmanteb sii
BalasHapusOrang tua pasti tau yang terbaik untuk anaknya !! Semangat terus menjalani hidup abi
BalasHapusSemangat abi
BalasHapusabi hrs semangat
BalasHapuscheer up Abi!!
BalasHapusTerus berkarya yaa
BalasHapusWah amanat yg terkandung dalam ceritanya ngena banget nih wkwkwkwk. Emang bener, restu orang tua tuh cukup berpengaruh dalam kehidupan kita.
BalasHapusBener banget kak:)
HapusMantabb
BalasHapusAlur ceritanya sangat menarik. Tidak membuat bosan saat membacanya. Sangat menikmati. Luar biasa
BalasHapusYahhh abi
BalasHapus๐๐๐๐๐
BalasHapus