Jalan yang Berliku

     Setahun yang lalu kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat pulang dari bekerja sehingga aku hidup sendirian. Aku harus bekerja demi melanjutkan sekolahku dan memenuhi kebutuhan hidupku. Setiap hari, simpanan uangku semakin menipis hingga aku terpaksa harus berhenti sekolah. Orang tuaku tidak mewariskan perusahaan, atau properti, hanya sebuah rumah sederhana yang sampai saat ini ku tinggali. Jadi, aku harus mulai bekerja dari nol. 

     Setiap hari aku pergi kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan. Mulai dari rumah makan, toko sampai pabrik. Kemudian aku diterima menjadi karyawan di sebuah pabrik tahu yang cukup jauh dari rumahku. Aku bekerja di sana selama kurang lebih 1 tahun sampai akhirnya aku mengundurkan diri karena upahnya menurun. Namun sebelum mengundurkan diri, aku sudah melamar pekerjaan dan diterima menjadi karyawan di sebuah toko swalayan di dekat rumahku. 

     Aku bekerja di sana cukup lama. Gajinya lumayan apalagi saat hari raya akan tiba, pasti aku mendapat bingkisan dari bosku, teman kerjaku juga baik dan menyenangkan. Tapi lama-kelamaan aku merasa bahwa gaji yang kuterima kurang untuk mencukupi keinginanku. Aku ingin mengambil kejar paket C kemudian melanjutkan untuk berkuliah seperti manusia lainnya. Sampai suatu hari aku bertemu dengan Risa, seorang pegawai tempat karaoke. 

     Pertama kali bertemu, ia sedang berbelanja di tokoku sampai akhirnya kita berteman. Aku menceritakan padanya tentang keinginanku. Dia memberi solusi padaku untuk ikut bekerja bersamanya karena gaji yang ia terima sangatlah banyak dengan pekerjaan yang sangat menyenangkan. Benar, menjadi pemandu lagu di tempat kerjanya. Setelah aku pertimbangkan, aku menerima tawarannya. 

     Aku senang bekerja di tempat karaoke karena pekerjaannya sangat santai. Aku jadi punya banyak uang sehingga bisa mengambil kejar paket C. Dari pemandu lagu, aku berpindah menjadi tukang pijat di tempat spa dekat tempat karaoke. Pelanggannya om-om kaya, mereka suka memberiku bonus apalagi jika pelayananku memuaskan. Aku juga sering tidur bersama om-om demi mendapat bonus yang lebih besar. 

     Suatu hari, pemilik spa tempatku bekerja berkunjung untuk mengevaluasi karyawannya. Aku terkejut setelah tahu bahwa pemilik spa itu adalah tanteku sendiri. Dia juga kaget dan tidak menyangka bahwa saudaranya sendiri bekerja sebagai tukang pijat di tempatnya. Dia langsung mengajakku keluar dan berbicara empat mata. Dia tidak memecatku tapi dia hanya menyarankan aku untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Dia juga bersedia membiayai pendaftaran kuliahku. 


Komentar

Posting Komentar