Hampir Ditikung

     Aku sudah bersahabat dengan Dira sejak SD. Awalnya kami duduk sebangku di masa SD sampai di SMA juga kita masih duduk sebangku. Kami punya hobi yang sama yaitu berenang, oleh karena itu kami sering menghabiskan waktu luang kami dengan berenang di kolam renang dekat rumah Dira. Rumah kami cukup dekat, hanya berjarak kurang lebih 21 rumah. Selain melakukan hobi, kami juga sering belajar bersama, karena belajar bersama membuat kami dapat menyelesaikan tugas dengan lebih mudah. 

     Kami juga suka pergi bermain bersama. Ke Ancol, Dufan, dan Transmart Studio. Kami juga sering menceritakan masalah kami satu sama lain. Meminta pendapat atau bahkan meminta bantuan untuk itu. Kami juga selalu berbagi kebahagiaan dan selalu bersama saat suka maupun duka. Pada suatu hari, Dira bercerita bahwa ia memiliki pacar baru yang sangat tampan. Dia menceritakan semua tentang pacarnya, semua hal baik tentunya. Aku sangat ingin tahu nama dan wajah pacarnya. 

     Dira masih merahasiakannya, walaupun begitu, dia tetap bercerita tentang pacarnya bahkan meminta solusi padaku ketika mereka bertengkar. Sampai suatu hari, dia mempertemukanku dengan pacarnya saat kami berjanjian untuk makan siang bersama. Aku sangat terkejut karena ternyata pacar Dira adalah pria yang kusukai sejak SMP tapi tak pernah kuceritakan pada Dira. Pacarnya tidak mengenalku, jadi kami berkenalan tuk pertama kalinya. 

     Aku harus berusaha bahagia walaupun sakit hati yang kurasakan teramatlah dalam. Lama kelamaan, aku tidak mampu pura-pura bahagia atas hubungan Dira dengan pacarnya. Aku mulai mengikuti akun instagram pacar Dira, Zain. Ternyata Zain langsung mengikuti balik akunku dia juga sangat responsif terhadap pesan yang ku kirim. Melalui instagram, aku mulai banyak mengobrol dengan Zain melalui fitur DM, Direct Message. Kami saling mengirim pesan hingga larut malam. Aku tak menyangka bahwa aku bisa berhubungan dengan orang yang kusuka. 

     Suatu hari, Zain mengajakku menonton bioskop hanya berdua saja, tanpa Dira dan tentunya tanpa sepengetahuan Dira. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan ajakan Zain, mana mungkin aku menolak ajakan yang selama ini aku impikan. Dia menjemputku dan membayarkan tiketku. Kami duduk bersebelahan di daerah yang cukup sepi penonton. Setelah film selesai, aku kaget sekali karena melihat Dira mendatangi kami dengan bertepuk tangan. 

     Zain tidak kaget sama sekali, dia justru tertawa. Ternyata ini adalah jebakan yang dibuat Dira karena ia mengetahui dari Zain bahwa aku ingin mendekatinya. Disitu aku sangat malu karena Dira meneriakiku dengan sebutan "PELAKOR" atau Perebut Laki Orang. Aku pulang dengan perasaan sedih dan sangat malu. Sejak itu, persahabatan kami putus. Tapi aku tidak menyesal sama sekali karena setidaknya aku sudah pernah nonton film di bioskop bersebelahan dengan Zain. 


Komentar

Posting Komentar