Antara Cinta dan Cita

     Aku berpacaran dengan Ria sejak kelas 2 SMP dan sekarang kami sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA. Kita bersekolah di sekolah yang berbeda, aku di SMAN 1 Lawang sedangkan Ria di SMKN 1 Purwosari. Sejak SD memang aku bercita-cita sebagai duta besar Indonesia di Rusia karena terinspirasi dari film kartun kesukaanku, Masha and The Bear. Oleh karena itu, aku mengambil jurusan IPS supaya nantinya aku bisa lebih mudah berkuliah pada jurusan HI atau Hubungan Internasional. 

     Selama duduk di bangku sekolah, hubungan ku dengan Ria baik-baik saja—walaupun kami berbeda sekolah. Aku selalu menjemputnya sepulang sekolah, walau jarak sekolah kami jauh. Kami juga sering menghabiskan waktu berdua, nonton ke bioskop, dan main ke wisata wahana. Kami telah melewati banyak suka cita bersama. Jadi tahu kan betapa kami sangat mencintai satu sama lain. 

     Hingga tiba saatnya kelulusan sekolah. Kami saling datang ke acara wisuda satu sama lain. Setelah lulus, Ria bekerja di sebuah pabrik makanan di Pasuruan, sedangkan aku berkuliah di Universitas Brawijaya dengan jurusan yang aku impikan yaitu HI. Karena aku sangat berambisi untuk menjadi duta besar di Rusia, aku aktif mengikuti banyak kegiatan yang sekiranya dapat membantu karirku. 

     Bahkan aku juga mengambil kursus bahasa Rusia sepulang kuliah. Sejak kuliah memang aku menjadi sangat sibuk, bahkan aku jarang memiliki waktu untuk keluarga apalagi untuk Ria. Hubungan kami semakin hari semakin renggang. Wajar saja jika Ria sering marah padaku karena aku jarang membalas pesannya atau pergi main bersama. Hingga pada suatu hari, pertengkaran kami telah sampai pada puncaknya. 

     Aku putus dengan Ria. Sebenarnya aku sangat sedih dan patah hati. Namun, semua ini harus kulakukan demi melancarkan jalanku menggapai mimpi. Walau putus dari Ria, aku tidak kehilangan semangat, malah aku makin semangat dan ambisius. Aku magang di beberapa perusahaan dan bergabung dalam organisasi mahasiswa untuk memperluas relasiku. 

     Selama kuliah, aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Aku terlalu fokus dengan cita-citaku. Pada semester 5, aku menyusun skripsi dengan sangat serius supaya aku dapat segera lulus dan mendapat nilai yang maksimal. Hari demi hari ku lewati dengan penuh perjuangan. Sampai waktu sidang tiba, aku menjalani sidang dengan sedikit takut—takut dengan performa ku. Dan, Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus. 

     Hari itu adalah hari wisudaku sebagai Sarjana Hubungan Internasional (S.Hub.Int.). Wisudaku hanya dihadiri oleh orang tua dan adik perempuanku, tanpa adanya seorang pacar. Tapi aku tidak iri dengan teman-temanku yang dihadiri oleh pacarnya. Setelah aku resmi menjadi sarjana, aku mendaftar sebagai duta besar Indonesia di Rusia. Berbagai tes kulakukan dengan serius dan hati-hati. Tak lupa ku selalu berdoa pada Allah dan meminta restu pada kedua orang tuaku. 

     Dua bulan setelah mendaftar, aku dinyatakan lulus dalam ujian dan diterima menjadi duta besar Indonesia di Rusia. Kemudian aku dilantik oleh Presiden Jokowidodo di Istana Negara, Jakarta sebagai Duta Besar RI di Rusia. Aku sangat bersyukur karena kerja keras dan doaku selama ini tidak sia-sia. Karirku semakin naik karena beberapa prestasiku. 

     Suatu hari, saat hari raya idul fitri, aku memberi kejutan pada orang tua dengan diam-diam pulang ke Indonesia dan merayakan hari raya bersama. Mereka sangat terkejud, aku juga terkejud karena adanya Ria di rumahku. Kukira ia masih menjaga hubungan dengan orang tuaku, ternyata mantanku adalah istri dari sepupuku, Farel. 


Komentar

  1. kalo ini kisah nyata aku minggat aja sih

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. WAW SANGAT TERKEJUT SEKALIHHH

    BalasHapus
  4. Ku menjaga jodoh sepupuku sendiri

    BalasHapus
  5. MANTAP RIA. BALAS DENDAM TERBAIK ADALAH MENIKAHI SEPUPUNYA

    BalasHapus
  6. selingkuh berkedok ldr ya bunda

    BalasHapus
  7. toppp bgt si alur ceritanya

    BalasHapus
  8. sukakk polll sama authornya

    BalasHapus

Posting Komentar